Beberapa hari yang lalu gue melihat iklan di televisi kita tercinta, mengenai pengurangan konsumsi nasi putih. mulai makan jagung, singkong, dan (mungkin) sagu. gue agak banyak setuju kepada kampanye ini. gue pahami, bahwa dengan kita bergantung terhadap satu komoditas, pasti menjadi tidak baik. dan mulai mencari penggantinya adalah hal yang baik. ketergantungan pada nasi harusnya disikapi seperti ketergantungan pada hal-hal lain yang memang membuat kita tergantung (lho) seperti, rokok.
biasa gak sih, kita dengar, bahwa belum makan nasi, rasanya belum makan. perut gak penuh, gak kenyang. gue percaya ini kita dengar dimana-mana. gue bukan ahli gizi yang tahu apa pengganti yang tepat untuk nasi putih dari sisi gizi. tapi, makan nasi merah, jagung, atau roti sudah cukup memenuhi kebutuhan gizi kita juga ko. kalau boleh berpatokan pada pola gizi 4 sehat 5 sempurna (meski sudah banyak ditinggalkan, karena kabarnya tidak tepat) pengganti makanan nasi putih, sumber karbohidrat, bisa dari makanan seperti nasi merah, jagung dan roti, dan kawan-kawannya. (bahkan bapak gue, gak kuat kalau sarapan bubur (yang dibuat dari nasi putih juga), pasti ia cepat lapar lagi dan mencari nasi putih)
untuk daerah jawa, kaya kita gini, yang sawah-sawah terhampar luas rasanya kalau agak tergantung sama nasi, ya masih wajar. tapi kalau memaksakan, semua transmigran dari jawa ke daerah transmigrasi di kalimantan dan sulawesi untuk makan nasi juga. ya susah. rasanya panganan lokal (yang karbohidrat juga) sudah cukup lah.
gue gak bisalah berkata hal-hal teknis kenapa sih nasi putih juga harus dikurangi. tapi yang gue tahu, ketergantungan kita terhadap nasi putih itu tidak masuk akal. jadi marilah kita kurangi ketergantungan itu. gimana caranya? simpel ya cari aja makanan alternatif lain yang mengenyangkan. apa ya? boleh gak mie jadi makanan sumber karbohidrat pengganti? gimana masalah gizinya? aaaah.. pada akhirnya makan nasi putih, emang paling praktis, warung dimana juga jualannya pake nasi putih.
Proud of my Indonesia! :)
So, don’t go anywhere?
We find it always hard to explain how large Africa is, especially if a species (like the bonobo) lives in only one country, but that country exceeds Western Europe in size. Reblog if you find this interesting on Great Spaces.
kemarin kakak sepupu gue nikahan, dan ternyata di acara tersebut, nyokap gue ketemu lagi temennya pas SMA. dan gue dapat kalimat mutiara dari dia. ceritanya gini, (dia yang cerita)
saya kemarin pergi ke nikahan orang kantor. saya tu dateng ya, dateng aja gak niat bawa pulang apa-apa. saya pulang cepet aja, tapi jalurnya agak beda. jadi gak lewat pintu depan. karena lebih gampang ke rumah saya lewat jalan belakang dari gedungnya, pas lewat belakang. saya ketemu satpam gedungnya, e.. ada makanan lebih dari acara nikahannya, saya ditawarin bawa kerupuk satu kantong gede. ya saya bawa aja.. ee.. sampe rumah gak tau mau diapain kerupuk satu kantong itu. hahahaha.ya buat saya sih gak penting dapet kerupuknya, tapi kepuasan guyonnya itu loh, bawa kerupuk sebanyak ini.
setelahnya dia tertawa lebih puas. yang lucunya lagi, pulang dari nikahan kakak sepupu gue kemarin, dia bawa sekantong gede kerupuk lagi. dia tetep gak tau harus diapain tu kerupuk sebanyak itu. tapi guyon nya jalan terus.
satu kata dari gue, om. SALUT!
melawak itu emang butuh keseriusan, terkadang malah memiliki resiko. tapi itulah yang menarik. bukan hanya sekedar melontarkan sejumlah kata-kata, cela sana cela sini.